JATIM.IDNZONE.COM – Perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu dan perubahan pola cuaca menjadi tantangan bagi pembangunan di berbagai sektor. Di tengah kebutuhan infrastruktur yang terus meningkat, pembangunan tidak lagi hanya dituntut memenuhi aspek fungsi dan performa, tetapi juga mampu menekan dampak lingkungan serta jejak karbon.
Kondisi tersebut mendorong PT Semen Gresik, anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), untuk terus memperkuat penerapan green industry dan pembangunan berkelanjutan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan terhadap Indonesia Green Building Festival (IGBF) 2026 yang diselenggarakan Green Building Council Indonesia (GBCI) di Auditorium Shangri-La Hotel Surabaya, Selasa (29/9/2026).
Mengusung tema “Mengintegrasikan Kebijakan Preservasi, Tolok Ukur Hijau, dan Penggunaan Material Berkelanjutan untuk Mewujudkan Infrastruktur Rendah Karbon”, kegiatan tersebut menjadi forum kolaborasi bagi berbagai pemangku kepentingan.
Forum tersebut membahas penguatan kebijakan, penerapan tolok ukur hijau serta penggunaan material berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mendorong pembangunan infrastruktur rendah karbon.
IGBF 2026 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan SIG bersama GBCI di lima kota besar Indonesia, yakni Bandung, Yogyakarta, Makassar, Denpasar dan Surabaya.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara industri, pemerintah, akademisi, praktisi serta pemangku kepentingan sektor konstruksi untuk memperkuat penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Semen Gresik Dorong Transformasi Industri Hijau
Direktur Utama PT Semen Gresik, Gatot Mardiana, mengatakan keberlanjutan telah menjadi bagian integral dari strategi perusahaan, baik dalam menjalankan operasional maupun mengembangkan produk dan solusi konstruksi.
Menurutnya, transformasi menuju industri yang lebih hijau membutuhkan integrasi aspek lingkungan ke dalam proses bisnis serta inovasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Bagi Semen Gresik, green industry merupakan bagian dari transformasi bisnis untuk menciptakan nilai jangka panjang. Di Semen Gresik Pabrik Rembang, pendekatan tersebut kami lakukan mulai dari proses produksi hingga pengembangan produk,” terang Gatot.
Ia menjelaskan, Semen Gresik telah mengembangkan produk semen hijau dengan intensitas emisi hingga 28 persen lebih rendah dibandingkan semen konvensional pada umumnya.
Selain pengembangan produk, perusahaan juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam proses produksi. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan bahan bakar alternatif, seperti Refuse-Derived Fuel (RDF), limbah industri dan biomassa.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengurangi penggunaan sumber daya konvensional sekaligus mendorong proses produksi yang lebih berkelanjutan.
Kolaborasi Industri dan GBCI Dorong Konstruksi Hijau
Gatot menilai kolaborasi dengan GBCI menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat ekosistem konstruksi hijau di Indonesia.
Menurutnya, GBCI memiliki peran dalam mendorong pemahaman dan penerapan prinsip bangunan hijau, sedangkan Semen Gresik dapat berkontribusi melalui produk dengan proses produksi yang mengedepankan aspek lingkungan.
“Karena itu, IGBF menjadi salah satu momentum untuk kolaborasi sekaligus mendorong penggunaan material bangunan yang lebih ramah lingkungan dan rendah emisi,” jelasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, penggunaan material konstruksi yang lebih ramah lingkungan diharapkan semakin berkembang seiring meningkatnya kebutuhan terhadap pembangunan yang rendah karbon.
Bangunan Berperan dalam Target Net Zero Emission
Sementara itu, Chairperson Green Building Council Indonesia, Ir. Ignesjz Kemalawarta, M.B.A., menyampaikan bahwa penerapan prinsip bangunan hijau membutuhkan pendekatan yang terintegrasi.
Menurutnya, aspek kebijakan, desain, performa bangunan hingga material yang digunakan perlu menjadi bagian dari upaya mewujudkan pembangunan rendah karbon.
Keterlibatan industri bahan bangunan juga dinilai penting untuk memperluas penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan.
“Bangunan dan properti turut berkontribusi dalam pencapaian target net zero emission Indonesia pada 2060. Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi dan inovasi di seluruh rantai industri agar transformasi menuju pembangunan rendah karbon berjalan konsisten dan sejalan dengan komitmen Indonesia melalui Nationally Determined Contribution (NDC),” jelasnya.
Melalui kolaborasi bersama GBCI dan berbagai pemangku kepentingan, Semen Gresik terus mendorong pengembangan produk dan solusi konstruksi yang mengedepankan kualitas, performa, durabilitas, efisiensi sumber daya serta aspek keberlanjutan.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari kontribusi Semen Gresik bersama SIG dalam memperkuat ekosistem konstruksi hijau di Indonesia.
Selain mendukung pembangunan rendah karbon, langkah tersebut juga diarahkan untuk mendorong penggunaan material konstruksi yang lebih berkelanjutan serta mendukung pencapaian target Net Zero Emission 2060. (QHT)













