JATIM.IDNZONE.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi menjelang musim hujan 2026/2027. Berbagai langkah mitigasi disiapkan, mulai dari menyiagakan puluhan peralatan penanggulangan bencana, mengaktifkan posko di kawasan rawan banjir, hingga menggencarkan normalisasi sungai dan saluran air.
Kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi yang dipimpin langsung Bupati Sidoarjo Subandi di Alun-alun Sidoarjo, Jumat (6/11/2026). Apel diikuti sekitar 400 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, Basarnas Surabaya, PLN, PMI, relawan, serta sejumlah perangkat daerah di lingkungan Pemkab Sidoarjo.
Sejumlah wilayah menjadi perhatian khusus dalam upaya mitigasi bencana banjir. Di antaranya Kecamatan Tanggulangin, Porong, Candi, Waru, Jabon, Krembung, hingga kawasan Sidoarjo Kota yang masuk dalam pemetaan daerah rawan genangan.
Untuk mendukung penanganan kondisi darurat, Pemkab Sidoarjo telah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana kebencanaan. Kekuatan peralatan tersebut meliputi 17 unit pompa air, empat perahu karet, 51 kendaraan operasional, ambulans, 10 sepeda motor trail, 12 unit mobil pemadam kebakaran, 40 tenda pengungsian, dua dapur umum, 20 genset, serta 50 unit gergaji mesin.
Kesiapan tersebut juga diperkuat dengan keberadaan 32 rumah air yang tersebar di enam kecamatan, yakni Taman, Tanggulangin, Sidoarjo, Waru, Candi, dan Porong.
Selain menyiapkan peralatan, Pemkab Sidoarjo juga memperkuat sistem koordinasi melalui satu posko siaga utama BPBD dan empat posko bencana yang berada di Kecamatan Tanggulangin, Porong, Candi, serta Jabon. Posko tersebut disiapkan untuk segera diaktifkan ketika terjadi banjir maupun kondisi darurat lainnya.
Bupati Sidoarjo Subandi menginstruksikan seluruh jajaran kecamatan agar mengaktifkan posko bencana dan meningkatkan koordinasi lintas sektor. Menurutnya, kecepatan komunikasi dan keterpaduan penanganan menjadi faktor penting dalam menghadapi bencana yang datang tanpa bisa dipastikan waktunya.
“Saya instruksikan masing-masing kecamatan mengaktifkan posko bencana. Kolaborasi harus terus ditingkatkan, termasuk melalui forum dan pelatihan kebencanaan. Bencana ini tidak bisa diperkirakan sehingga harus kita tanggulangi dengan kesiapsiagaan,” kata Subandi.
Di sisi lain, upaya pengendalian banjir juga terus dilakukan melalui normalisasi sungai dan saluran air. Pekerjaan tersebut ditangani Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Sidoarjo, terutama di wilayah Tanggulangin, Porong, dan Candi.
Di kawasan Kedungpeluk, Kecamatan Candi, pemerintah daerah juga telah membangun dam berukuran besar yang dilengkapi dengan pengerukan untuk mendukung normalisasi aliran air.
Subandi mengakui, penanganan banjir di Kabupaten Sidoarjo memiliki tantangan tersendiri karena karakteristik geografisnya yang merupakan wilayah delta. Kondisi tersebut membuat proses pembuangan air, terutama ketika terjadi pasang air laut atau rob, tidak selalu bisa dilakukan secara langsung.
“Kalau air rob meluap, air tidak bisa langsung kita keluarkan. Kita harus menunggu sampai kondisi air memungkinkan, baru dilakukan pembuangan,” ujarnya.
Meski ancaman bencana di wilayah Delta Sidoarjo lebih banyak didominasi banjir, Subandi menegaskan kesiapsiagaan pemerintah daerah tidak hanya difokuskan pada genangan air. Potensi angin puting beliung, kebakaran, hingga kekeringan juga menjadi perhatian dalam upaya mitigasi.
Ia mengapresiasi keterlibatan seluruh unsur masyarakat, aparat keamanan, instansi terkait, dan relawan yang terus membangun sinergi dalam menghadapi potensi bencana.
“Saya berharap sinergi pemerintah daerah, TNI, Polri, instansi terkait, dan relawan terus diperkuat sehingga upaya mitigasi dan penanganan bencana dapat berjalan optimal serta memberikan perlindungan bagi masyarakat,” tuturnya.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan di Kabupaten Sidoarjo diperkirakan berlangsung mulai Desember 2026 hingga Maret 2027. Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Februari 2027.
Meski durasi musim hujan diperkirakan lebih singkat, fenomena El Nino yang diprediksi masih berlangsung hingga Februari 2027 membuat dinamika cuaca cenderung sulit diprediksi. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan bencana.
Sementara itu, data kejadian bencana di Kabupaten Sidoarjo sepanjang 1 Januari hingga 1 November 2026 mencatat sebanyak 28 kejadian. Rinciannya terdiri atas empat kejadian banjir, 21 kejadian angin kencang, dan tiga kejadian kekeringan.
Dampak angin kencang tercatat meluas hingga 14 kecamatan dan 63 desa. Sedikitnya 288 rumah warga mengalami kerusakan ringan akibat kejadian tersebut.
Dengan penguatan posko, kesiapan peralatan, normalisasi sungai, serta koordinasi lintas sektor, Pemkab Sidoarjo berharap upaya mitigasi bencana dapat berjalan lebih optimal. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari perlindungan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi selama musim hujan 2026/2027. (XBP)













