BisnisUmum

Harga LNG Turun Jadi US$13 MMBtu, Biaya Gas Industri Keramik Susut hingga 40 Persen

354
×

Harga LNG Turun Jadi US$13 MMBtu, Biaya Gas Industri Keramik Susut hingga 40 Persen

Sebarkan artikel ini
Seorang pekerja pabrik keramik mengoperasikan mesin. (Marcos Issa/Bloomberg News)

JATIM.IDNZONE.COM – Kebijakan Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang menurunkan harga Liquefied Natural Gas (LNG) untuk industri menjadi US$13 per MMBtu disambut positif oleh pelaku usaha. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menilai langkah ini sebagai “angin segar” yang mampu mendongkrak daya saing industri domestik.

Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, mengungkapkan bahwa penyesuaian harga gas yang berlaku mulai 29 Juni 2026 ini secara signifikan akan memangkas struktur biaya produksi keramik nasional.

“Dengan penyesuaian kebijakan tersebut, rata-rata biaya gas industri keramik diperkirakan turun menjadi sekitar US$9,5 hingga US$10 per MMBtu, atau berkontribusi pada penurunan sekitar 38% sampai 40% dari total biaya produksi,” ujar Edy dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Memangkas Beban Energi dan Menangkal Badai PHK

Sebelum kebijakan ini diketok, biaya energi gas menjadi momok menakutkan bagi industri keramik karena porsinya mencapai 50% dari total biaya produksi. Lonjakan harga gas terjadi akibat penurunan produksi kilang di Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta, yang memaksa industri beralih menggunakan LNG dari Papua, Sulawesi, dan Kalimantan dengan harga pasar mencapai US$20 hingga US$23 per MMBtu.

Edy menegaskan, penurunan harga LNG ke angka US$13 per MMBtu ini memberikan jaminan kepastian bagi dunia usaha, menjaga daya saing di pasar, serta yang terpenting: melindungi keberlangsungan lapangan kerja dari ancaman PHK.

Meski demikian, ASAKI tetap berharap pemerintah bisa meningkatkan kembali porsi alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi 70%–80% seperti semula. Langkah tersebut dinilai krusial untuk memperkuat resiliensi industri dari gempuran produk impor, khususnya dari Cina dan India.

Dampak Berganda: Investasi Rp12 Triliun Menanti

READ  Jaga Pasokan Jelang Lebaran 2026, Pemerintah Alihkan Sumber Impor LPG ke AS dan Australia

Lebih dari sekadar bertahan hidup, kepastian pasokan energi dengan harga kompetitif ini diyakini akan memicu efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional. ASAKI optimistis industri keramik dapat melanjutkan rencana ekspansi strategis periode 2025–2029.

Rencana ekspansi tersebut diproyeksikan membawa dampak masif, antara lain:

1. Tambahan Kapasitas Produksi: Mencapai sekitar 80 juta meter persegi.

2. Nilai Investasi Baru: Menyentuh angka Rp12 triliun.

3. Penyerapan Tenaga Kerja: Berpotensi membuka 6.000 lapangan kerja baru.

“Pelaku industri berharap kebijakan energi yang lebih kompetitif dapat menjadi momentum untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat posisi industri keramik Indonesia di pasar domestik maupun internasional,” pungkas Edy.

Respon Cepat Pemerintah Atasi Jeritan Industri

Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah dirinya menyerap aspirasi dari berbagai asosiasi industri dalam 20 hari terakhir terkait tingginya harga gas pasar.

Pemerintah akhirnya menetapkan formula bauran harga untuk menyelamatkan sektor industri:

1. HGBT Tetap Stabil: Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dipertahankan pada kisaran US$6,5 – US$7 per MMBtu.

2. Pipa Gas Jawa: Industri yang menggunakan pipa gas dengan pasokan kilang Jawa tetap berada di angka US$9,6 per MMBtu.

3. Penurunan LNG Pasokan Luar Jawa: Harga LNG komersial dipangkas dari US$20–US$23 per MMBtu menjadi US$13 per MMBtu.

“Kita berharap dengan Pak Simon (Dirut Pertamina) dan PGN, ini tidak mengenakkan semua (pihak), tapi harus dilakukan kalau mau menyelamatkan (industri). Makanya teman-teman industri meminta pemerintah turun tangan,” tegas Bahlil. (XLS)